IMLEK BUKAN HANYA LIONG DAN BARONGSAI

RIP TOCKARY-ZHUO

 

Orang Jepang bergembira dengan datangnya Natal, mereka memasang pohon Natal dengan segala pernak perniknya.  Lagu-lagu natal terutama stille nach terdengar dimana-mana bahkan sinterklaspun ikut meramaikan perayaan Natal. Apa mereka beragama Kristen ?, tidak sama sekali bahkan banyak yang tidak tahu siapa sang Juru Selamat itu.  Itu tidak menjadi halangan. Tidak ada yang salah dalam hal ini.  Tetapi perayaan spiritual itu menjadi tanpa makna.

 

Tradisi Natal diawali pada sekitar abad ke VIII ketika suku-suku Germanik memeluk kekristenan.  Mulanya peristiwa itu adalah hari pemujaan matahari yang disana dinamakan sang sol invictus (matahari yang tidak terkalahkan). Ketika menjadi kristen mereka mengganti posisi matahari ini untuk Yesus Kristus, Juru Penerang dunia. Bila Yesus benar-benar lahir ke dunia tidak seorangpun tahu persis orang Kristen Ortodoks meyakininya tanggal 6 Januari 1 Tahun Sebelum Tarikh Masehi, itupun bersifat spekulasi. 

 

Lalu apa bedanya dengan mereka yang merayakan Tahun Baru Imlek hanya karena menyukai tarian naga dan singa, tanpa unsur religius sedikitpun. Mereka sekedar merayakannya sebagai Hari Syukur (thanks giving) semacam harvesting festival, padahal benih baru saja ditabur.  Kini tarian singa dan naga menjadi milik pelbagai bangsa termasuk Indonesia.  Tetapi makna Tahun Baru lebih kaya dari itu. 

 

Pemulihan dan Pertobatan

 

Dalam bak mandi kaisar Chengtang ada tertulis; “bila suatu kali engkau menjadi baru maka tetaplah jaga agar supaya engkau senantiasa baru”.  (Da Xue II, 1) Apa esensi baru itu?  Baru mencerminkan suatu dinamisme, kesegaran, penuh enersi dan vitalitas.  Dalam makna kata baru tersirat adanya suatu pemulihan dari hal baru yang sudah usang, lusuh dan compang camping menjadi segar kembali.  Yang tadinya menyimpang diluruskan kembali, bagian yang rusak diganti dengan yang masih utuh.  Apa inti makna dari semua ini ?  Justru itulah pertobatan suatu pemulihan dan reorientasi kembali ke fitrah yang asali.  Ini juga hakikat dari suatu pertobatan.  Jadi tahun baru tidak mungkin dapat dinikmati bila yang terjadi biasa saja, business as usual. 

 

Kongzi setiap kali memasuki periode antara hari raya musim dingin Dongzhi sekitar bulan desember hingga dimulainya musim semi sengaja berpuasa, merefleksikan perjalanan hidup pada tahun lama untuk menyambut Tahun Baru. Ya periode puasa, refleksi atau retret berlangsung pada periode itu.  Segala kegembiraan anugerah Tuhan disyukuri tetapi segala pedih,luka batin, perih dan kegetiran dinetralkan.  Jadi Tahun Baru bermakna sangat religius.  Itulah esensi dari kata pembaharuan.  Tahun baru adalah harapan baru, musim yang indah biarkan alam akan menghasilkan panen yang lebih dari tahun yang lama. Biarkan semua keluarga selamat dan sentosa. 

 

Jika kita perhatikan dengan cermat kalender ritual bangsa China terjadi di seputar alam, mengikuti irama perjalanan matahari. Ini bukan kebetulan tetapi tradisi ini terjadi sejak bangsa ini seperti bangsa-bangsa besar lainnya masih memuja dewa matahari dan bulan.  Dalam mitologi bangsa China Fuxi dahulu dipuja sebagai dewa matahari sedang Nuwa sebagai dewa bulan. Perayaan kueh bulan dengan lampionnya adalah peninggalan tradisi ya itu tadi. 

 

Evolusi matahari mempunyai empat koordinat terhadap bumi, yakni dua titik ekstrim (solstice) yakni pada titik terutara dan titik terselatan dari ekliptik; di belahan bumi utara saat itu lama siang sangat panjang, sedang pada titik kedua justru siang hari sangat pendek.  Pada saat itu matahari berada di titik zenith,summer soltice bersinar demikian teriknya (Juni 21- atau 22) sedang dalam bulan Desember 21-22 lama siang hari sangat pendek.  Masa ini adalah masa yang paling dingin, dan dua titik equinox yakni saat matahari menyeberang equator selestial ada dua titik yakni vernal (spring) equinox, dan autum equinox, saat itu lama siang dan malam hampir sama.. Di negeri china ada empat musim yakni musim semi, musim gugur, musim panas dan musim dingin (salju), peralihan musim membawa krisis sendiri dan ini mempengaruhi hidup manusia.

 

Krisis ini ditandai dengan ritus astronomi, inilah yang menjadi dasar kalender ritual nature worshiper.  Kedatangan Tahun Baru dirayakan seturut datangnya musim semi dengan perayaan Yinli sekaligus pergantian tahun.  Ritus musim gugur dengan ritus musim panas dengan perayaan Duanyang, ritus musim dingin dengan hari raya Dongzhi. Ritus ini diambil alih oleh penganut Zhouli atau agama Zhou yang kelak dinamakan Rudao atau Rujiao.  Mereka mereka kisah baru untuk memberi makna baru. Ya itu sah saja.  Di belakang hari ummat Buddha juga turut memberi arti pada pelbagai perayaan yang asli China ini.

 

Tarian singa dan naga baru menjadi terkenal pada zaman dinasti Han (abad ke III SM) dan perayaan ini menjadi semakin meriah. Tarian singa mengingatkan kita pada Fuxi yang menemukan wahyu Houtu yang dibawa binatang semacam singa, kuda dan besisik naga,dari Sungai Huangho. Sedang naga juga adalah binatang surgawi ketika rakyat melihat arwah kaisar Huangdi pulang menunggang kuda diatas langit.  Rakyat bersuka melihat rajanya selamat pulang ke negeri asalnya.  Itu sebabnya kemunculan binatang surga selalu diartikan datangnya berkah yang melimpah.  Ini adalah suatu epiphani penampakan yang ilahi, Rakyat melihat dirinya sebagai putra Huangdi atau putra sang Naga (seeds of the dragon).  Inilah makna sebenarnya dari perayaan Tahun Baru. 

 

[Kembali ke Diskusi]